Senin, 10 Maret 2014

*Sajak "Kau harus tahu" 9 Maret 2014 pukul 21:06 Kau harus tahu, langit dan bumi tidak pernah menyatu, tapi ketika hujan, mereka bisa bersatu erat saling bercengkerama begitu indah, atas setiap tetesnya. Amat mesra saling menyapa. Kau harus tahu, lautan dan matahari tidak pernah menyatu. tapi ketika sunset, matahari tenggelam di kaki langit sana, maka garis horizon laut memeluk erat sang matahari. Untuk besok berjanji kembali akan bersua Di sini, di tempat yg sama, di waktu terjanjikan Kau harus tahu, bulan dan permukaan kolam jauh saja letaknya tapi saat purnama, tataplah permukaan kolam yang tenang maka bulan persis berada di dalam relung hatinya Memantulkan bayangan begitu anggun kebersamaan singkat yang begitu mempesona Maka,apalagi kita? Manusia yang tinggal di tanah yg sama Kita tidak dipisahkan bagai langit dan bumi Kisah cinta kita bisa begitu spesial Di tangan orang2 yang bersabar dan senantiasa tahu batasnya. Sunggu percayalah *Tere Liye

Selasa, 03 Desember 2013

NASEHAT ISLAM UNTUK REMAJA

Kami persembahkan nasehat ini untuk saudara-saudara kami terkhusus para pemuda dan remaja muslim. Mudah-mudahan nasehat ini dapat membuka mata hati mereka sehingga mereka lebih tahu tentang siapa dirinya sebenarnya, apa kewajiban yang harus mereka tunaikan sebagai seorang muslim, agar mereka merasa bahwa masa muda ini tidak sepantasnya untuk diisi dengan perkara yang bisa melalaikan mereka dari mengingat Allah subhanahu wata’ala sebagai penciptanya, agar mereka tidak terus-menerus bergelimang ke dalam kehidupan dunia yang fana dan lupa akan negeri akhirat yang kekal abadi.
Wahai para pemuda muslim, tidakkah kalian menginginkan kehidupan yang bahagia selamanya? Tidakkah kalian menginginkan jannah (surga) Allah subhanahu wata’ala yang luasnya seluas langit dan bumi?
Ketahuilah, jannah Allah subhanahu wata’ala itu diraih dengan usaha yang sungguh-sungguh dalam beramal. Jannah itu disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa yang mereka tahu bahwa hidup di dunia ini hanyalah sementara, mereka merasa bahwa gemerlapnya kehidupan dunia ini akan menipu umat manusia dan menyeret mereka kepada kehidupan yang sengsara di negeri akhirat selamanya. Allah subhanahu wata’ala berfirman:
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Ali ‘Imran: 185)
Untuk Apa Kita Hidup di Dunia?
Wahai para pemuda, ketahuilah, sungguh Allah subhanahu wata’ala telah menciptakan kita bukan tanpa adanya tujuan. Bukan pula memberikan kita kesempatan untuk bersenang-senang saja, tetapi untuk meraih sebuah tujuan mulia. Allah subhanahu wata’ala berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Adz Dzariyat: 56)
Beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Itulah tugas utama yang harus dijalankan oleh setiap hamba Allah.
Dalam beribadah, kita dituntut untuk ikhlas dalam menjalankannya. Yaitu dengan beribadah semata-mata hanya mengharapkan ridha dan pahala dari Allah subhanahu wata’ala. Jangan beribadah karena terpaksa, atau karena gengsi terhadap orang-orang di sekitar kita. Apalagi beribadah dalam rangka agar dikatakan bahwa kita adalah orang-orang yang alim, kita adalah orang-orang shalih atau bentuk pujian dan sanjungan yang lain.
Umurmu Tidak Akan Lama Lagi
Wahai para pemuda, jangan sekali-kali terlintas di benak kalian: beribadah nanti saja kalau sudah tua, atau mumpung masih muda, gunakan untuk foya-foya. Ketahuilah, itu semua merupakan rayuan setan yang mengajak kita untuk menjadi teman mereka di An Nar (neraka).
Tahukah kalian, kapan kalian akan dipanggil oleh Allah subhanahu wata’ala, berapa lama lagi kalian akan hidup di dunia ini? Jawabannya adalah sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala:
وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui apa yang akan dilakukannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Luqman: 34)
Wahai para pemuda, bertaqwalah kalian kepada Allah subhanahu wata’ala. Mungkin hari ini kalian sedang berada di tengah-tengah orang-orang yang sedang tertawa, berpesta, dan hura-hura menyambut tahun baru dengan berbagai bentuk maksiat kepada Allah subhanahu wata’ala, tetapi keesokan harinya kalian sudah berada di tengah-tengah orang-orang yang sedang menangis menyaksikan jasad-jasad kalian dimasukkan ke liang lahad (kubur) yang sempit dan menyesakkan.
Betapa celaka dan ruginya kita, apabila kita belum sempat beramal shalih. Padahal, pada saat itu amalan diri kita sajalah yang akan menjadi pendamping kita ketika menghadap Allah subhanahu wata’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلاَثَةٌ: أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ, فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى وَاحِدٌ, يَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ.
“Yang mengiringi jenazah itu ada tiga: keluarganya, hartanya, dan amalannya. Dua dari tiga hal tersebut akan kembali dan tinggal satu saja (yang mengiringinya), keluarga dan hartanya akan kembali, dan tinggal amalannya (yang akan mengiringinya).” (Muttafaqun ‘Alaihi)
Wahai para pemuda, takutlah kalian kepada adzab Allah subhanahu wata’ala. Sudah siapkah kalian dengan timbangan amal yang pasti akan kalian hadapi nanti. Sudah cukupkah amal yang kalian lakukan selama ini untuk menambah berat timbangan amal kebaikan.
Betapa sengsaranya kita, ketika ternyata bobot timbangan kebaikan kita lebih ringan daripada timbangan kejelekan. Ingatlah akan firman Allah subhanahu wata’ala:
فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ وَمَا أَدْرَاكَ مَا هِيَهْ نَارٌ حَامِيَةٌ
“Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. Tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas.” (Al Qari’ah: 6-11)
Bersegeralah dalam Beramal
Wahai para pemuda, bersegeralah untuk beramal kebajikan, dirikanlah shalat dengan sungguh-sungguh, ikhlas dan sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena shalat adalah yang pertama kali akan dihisab nanti pada hari kiamat, sebagaimana sabdanya:
إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمْ الصَّلاَةُ
“Sesungguhnya amalan yang pertama kali manusia dihisab dengannya di hari kiamat adalah shalat.” (HR. At Tirmidzi, An Nasa`i, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad. Lafazh hadits riwayat Abu Dawud no.733)
Bagi laki-laki, hendaknya dengan berjama’ah di masjid. Banyaklah berdzikir dan mengingat Allah subhanahu wata’ala. Bacalah Al Qur’an, karena sesungguhnya ia akan memberikan syafaat bagi pembacanya pada hari kiamat nanti.
Banyaklah bertaubat kepada Allah subhanahu wata’ala. Betapa banyak dosa dan kemaksiatan yang telah kalian lakukan selama ini. Mudah-mudahan dengan bertaubat, Allah subhanahu wata’ala akan mengampuni dosa-dosa kalian dan memberi pahala yang dengannya kalian akan memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.
Wahai para pemuda, banyak-banyaklah beramal shalih, pasti Allah subhanahu wata’ala akan memberi kalian kehidupan yang bahagia, dunia dan akhirat. Allah subhanahu wata’ala berfirman:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (An Nahl: 97)
Engkau Habiskan untuk Apa Masa Mudamu?
Pertanyaan inilah yang akan diajukan kepada setiap hamba Allah subhanahu wata’ala pada hari kiamat nanti. Sebagaimana yang diberitakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam salah satu haditsnya:
لاَ تَزُوْلُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ : عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلاَهُ وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ وَمَاذَا عَمِلَ فِيْمَا عَلِمَ.
“Tidak akan bergeser kaki anak Adam (manusia) pada hari kiamat nanti di hadapan Rabbnya sampai ditanya tentang lima perkara: umurnya untuk apa dihabiskan, masa mudanya untuk apa dihabiskan, hartanya dari mana dia dapatkan dan dibelanjakan untuk apa harta tersebut, dan sudahkah beramal terhadap ilmu yang telah ia ketahui.” (HR. At Tirmidzi no. 2340)
Sekarang cobalah mengoreksi diri kalian sendiri, sudahkah kalian mengisi masa muda kalian untuk hal-hal yang bermanfaat yang mendatangkan keridhaan Allah subhanahu wata’ala? Ataukah kalian isi masa muda kalian dengan perbuatan maksiat yang mendatangkan kemurkaan-Nya?
Kalau kalian masih saja mengisi waktu muda kalian untuk bersenang-senang dan lupa kepada Allah subhanahu wata’ala, maka jawaban apa yang bisa kalian ucapkan di hadapan Allah subhanahu wata’ala Sang Penguasa Hari Pembalasan? Tidakkah kalian takut akan ancaman Allah subhanahu wata’ala terhadap orang yang banyak berbuat dosa dan maksiat? Padahal Allah subhanahu wata’ala telah mengancam pelaku kejahatan dalam firman-Nya:
مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا
“Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah.” (An Nisa’: 123)
Bukanlah masa tua yang akan ditanyakan oleh Allah subhanahu wata’ala. Oleh karena itu, pergunakanlah kesempatan di masa muda kalian ini untuk kebaikan.
Ingat-ingatlah selalu bahwa setiap amal yang kalian lakukan akan dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah subhanahu wata’ala.
Jauhi Perbuatan Maksiat
Apa yang menyebabkan Adam dan Hawwa dikeluarkan dari Al Jannah (surga)? Tidak lain adalah kemaksiatan mereka berdua kepada Allah subhanahu wata’ala. Mereka melanggar larangan Allah subhanahu wata’ala karena mendekati sebuah pohon di Al Jannah, mereka terbujuk oleh rayuan iblis yang mengajak mereka untuk bermaksiat kepada Allah subhanahu wata’ala.
Wahai para pemuda, senantiasa iblis, setan, dan bala tentaranya berupaya untuk mengajak umat manusia seluruhnya agar mereka bermaksiat kepada Allah subhanahu wata’ala, mereka mengajak umat manusia seluruhnya untuk menjadi temannya di neraka. Sebagaimana yang Allah subhanahu wata’ala jelaskan dalam firman-Nya (yang artinya):
إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ
“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia musuh(mu), karena sesungguhnya setan-setan itu mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Fathir: 6)
Setiap amalan kejelekan dan maksiat yang engkau lakukan, walaupun kecil pasti akan dicatat dan diperhitungkan di sisi Allah subhanahu wata’ala. Pasti engkau akan melihat akibat buruk dari apa yang telah engkau lakukan itu. Allah subhanahu wata’ala berfirman (yang artinya):
وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sekecil apapun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (Az Zalzalah: 8)
Setan juga menghendaki dengan kemaksiatan ini, umat manusia menjadi terpecah belah dan saling bermusuhan. Jangan dikira bahwa ketika engkau bersama teman-temanmu melakukan kemaksiatan kepada Allah subhanahu wata’ala, itu merupakan wujud solidaritas dan kekompakan di antara kalian. Sekali-kali tidak, justru cepat atau lambat, teman yang engkau cintai menjadi musuh yang paling engkau benci. Allah subhanahu wata’ala berfirman:
إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ
“Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu karena (meminum) khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat, maka berhentilah kamu (dari mengerjakan perbuatan itu).” (Al Maidah: 91)
Demikianlah setan menjadikan perbuatan maksiat yang dilakukan manusia sebagai sarana untuk memecah belah dan menimbulkan permusuhan di antara mereka.
Ibadah yang Benar Dibangun di atas Ilmu
Wahai para pemuda, setelah kalian mengetahui bahwa tugas utama kalian hidup di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala semata, maka sekarang ketahuilah bahwa Allah subhanahu wata’ala hanya menerima amalan ibadah yang dikerjakan dengan benar. Untuk itulah wajib atas kalian untuk belajar dan menuntut ilmu agama, mengenal Allah subhanahu wata’ala, mengenal Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, dan mengenal agama Islam ini, mengenal mana yang halal dan mana yang haram, mana yang haq (benar) dan mana yang bathil (salah), serta mana yang sunnah dan mana yang bid’ah.
Dengan ilmu agama, kalian akan terbimbing dalam beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala, sehingga ibadah yang kalian lakukan benar-benar diterima di sisi Allah subhanahu wata’ala. Betapa banyak orang yang beramal kebajikan tetapi ternyata amalannya tidak diterima di sisi Allah subhanahu wata’ala, karena amalannya tidak dibangun di atas ilmu agama yang benar.
Oleh karena itu, wahai para pemuda muslim, pada kesempatan ini, kami juga menasehatkan kepada kalian untuk banyak mempelajari ilmu agama, duduk di majelis-majelis ilmu, mendengarkan Al Qur’an dan hadits serta nasehat dan penjelasan para ulama. Jangan sibukkan diri kalian dengan hal-hal yang kurang bermanfaat bagi diri kalian, terlebih lagi hal-hal yang mendatangkan murka Allah subhanahu wata’ala.
Ketahuilah, menuntut ilmu agama merupakan kewajiban bagi setiap muslim, maka barangsiapa yang meninggalkannya dia akan mendapatkan dosa, dan setiap dosa pasti akan menyebabkan kecelakaan bagi pelakunya.
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ.
“Menuntut ilmu agama itu merupakan kewajiban bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah no.224)
Akhir Kata
Semoga nasehat yang sedikit ini bisa memberikan manfaat yang banyak kepada kita semua. Sesungguhnya nasehat itu merupakan perkara yang sangat penting dalam agama ini, bahkan saling memberikan nasehat merupakan salah satu sifat orang-orang yang dijauhkan dari kerugian, sebagaimana yang Allah subhanahu wata’ala firmankan dalam surat Al ‘Ashr:
وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat- menasehati dalam kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Al ‘Ashr: 1-3)
Wallahu ta‘ala a’lam bishshowab.
Sumber: Buletin Al-Ilmu, Penerbit Yayasan As-Salafy Jember

Rabu, 24 Juli 2013

Cintaku dalam Diam

CINTA DALAM DIAMKU
Kumencintaimu dalam diam
Karena diamku tersimpan kekuatan harapan
Dan cintaku hingga saat ini masih terjaga
Mungkin Allah akan membuat harapan ini menjadi nyata
Ku ingin cintaku dapat berkata
Dikehidupan yang nyata
Namun jika tak memiliki kesempatan berkata
Biar semua in i tetap diam jika kau bukan untukku
Aku yakin Allah akan menghapus cintaku
Dengan berjalannya waktu
Dan memberi rasa yang lebih indah untukku
Yang menjadi jalan takdirku
Biar cinta dalam diamku ini
Menjadi memori tersendiri
Dan relung hatiku menjadi tempat rahasia
Kau dan perasaan cintaku ini

yanh.. cinta dalam diam itu seperti perang tetapi dengan batin,dan perasaan kita sendiri kalo mencintai seseorang dalam kekuatan DIAM dan berharap diam ku tercipta kekuatan,Tuhan pasti mencarikan jalan terbaik untuk hambanya... YAH.. sempat cerita seperti rasa yang gw alami saat ini sih.. "curhat ni" haha...

Rabu, 26 Juni 2013

AKU YANG TAK PENTING
Bagiku kamu adalah prioritas.
Tapi nyatanya aku bagimu hanyalah sebuah minoritas yang tak terlihat.
Bagiku kamu adalah apa yang selalu ingin aku tuliskan dalam setiap lembar kisah hidupku. Namun bagimu aku justru bagian yang tak perlu diingat.
Bagiku kamu adalah setiap kata indah yang ingin aku baca berulangkali, namun aku justru menjadi paragraph yang terlewatkan bagimu.
Jika bagiku kau adalah oksigen, beda denganmu, aku justru kau anggap polusi yang menyesakan. Yang selalu ingin kau hindari, yang selalu ingin kau enyahkan.
Padahal bagiku kau adalah sebuah kebutuhan. Oksigen yang menghidupkanku, yang selalu aku cari.
Apa aku selalu begini????
Menjadi bagian gelap dalam hidupmu. Yang tak pernah sekalipun ingin kau sentuh. Yang justru selalu kau anggap sebelah mata. Bagaimana jika bagiku kau adalah sesuatu yang primer? Dimana aku tak bisa hidup tanpanya? Lalu apa yang bisa dilakukan oleh Si Pengganggu agar Si Penting tahu bahwa Si Pengganggu amat mencintai Si Penting?

gimana men???

Minggu, 16 Juni 2013

Mengapa Allah memilih Bangsa Israel?

Adalah suatu misteri Allah, mengapa Allah memilih bangsa Israel, bukan bangsa lain, sebagai bangsa pilihan-Nya, saat Ia menentukan Abraham sebagai bapa bangsa pilihan-Nya itu, yang menurut garis keturunan akan menurunkan Yesus Kristus Putera-Nya, saat Kristus menjelma menjadi manusia.
Namun dalam Kitab Ulangan, Allah mewahyukan alasan-Nya, mengapa Ia memilih Israel, bangsa yang kecil, dan relatif tidak dikenal di dunia, jika dibandingkan dengan bangsa-bangsa besar lainnya, seperti Cina ataupun India.  Demikianlah yang diwahyukan Allah melalui Nabi Musa, “Bukan karena lebih banyak jumlahmu dari bangsa manapun juga, maka hati TUHAN terpikat olehmu dan memilih kamu -bukankah kamu ini yang paling kecil dari segala bangsa? – tetapi karena TUHAN mengasihi kamu dan memegang sumpah-Nya yang telah diikrarkan-Nya kepada nenek moyangmu, maka TUHAN telah membawa kamu keluar dengan tangan yang kuat dan menebus engkau dari rumah perbudakan, dari tangan Firaun, raja Mesir. Sebab itu haruslah kauketahui, bahwa TUHAN, Allahmu, Dialah Allah, Allah yang setia, yang memegang perjanjian dan kasih setia-Nya terhadap orang yang kasih kepada-Nya dan berpegang pada perintah-Nya, sampai kepada beribu-ribu keturunan…” (Ul 7:7-9).
Setelah kejatuhan manusia pertama, Adam dan Hawa, ke dalam dosa, Tuhan menjanjikan Penyelamat yang akan lahir sebagai keturunan sang perempuan (lih. Kej 3:15). Maka memang Tuhan perlu memilih suatu bangsa yang melaluinya Sang Penyelamat/ Mesias itu akan lahir. Tuhan kemudian memilih Abraham sebagai bapa bangsa, yang dari keturunan-Nya Tuhan akan membangkitkan Sang Mesias yang akan menjadi berkat bagi segala bangsa di bumi (lih. Kej 12:1-3). Maka demi mewujudkan rencana-Nya mengutus Putera Tunggal-Nya, Yesus Kristus- lah, Allah memilih suatu bangsa, sebagai bangsa pilihan-Nya agar Ia dapat masuk dalam sejarah umat manusia. Dan untuk maksud ini, Allah memilih Israel, suatu bangsa yang terkecil dari segala bangsa. Hal ini memang sesuai dengan cara kerja Allah, yang memang selalu memilih yang lemah, sebab di dalam kelemahan-lah kuasa Allah menjadi sempurna (2 Kor 12:9). Itulah sebabnya pula, dalam penjelmaan-Nya, Kristus memilih untuk lahir sebagai Anak tukang kayu yang miskin (lih. Mat 13:55), bahkan yang sempat menjadi pengungsi di Mesir (lih. Mat 2:14). Allah memang berpihak pada yang lemah dan kecil, seperti dikatakan Yesus, “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil.” (Mat 11:25; Luk 10:21). Demikianlah, prinsip ini bahkan digenapi secara sempurna oleh Kristus sendiri, saat Ia memilih cara-Nya menyelamatkan umat manusia, yaitu dengan wafat disalibkan sebelum kebangkitan-Nya yang mulia. Cara ini merupakan kebodohan menurut orang Yunani ataupun batu sandungan bagi bangsa Israel sendiri, namun sesungguhnya adalah kekuatan Allah (lih. 1 Kor 1: 22-31). Dengan selalu memilih cara yang tak terpandang dan hina di mata dunia, Allah malah hendak menunjukkan kekuatan-Nya sambil mengajarkan kebajikan kerendahan hati, suatu kebajikan lawan dari kesombongan, yang mengakibatkan manusia pertama (Adam dan Hawa) jatuh ke dalam dosa, yang memisahkan mereka dari Allah.
Maka dengan dipilihnya Israel, bangsa yang kecil di mata dunia, sebagai bangsa pilihan-Nya, memang sejalan dengan rencana Tuhan ini. Namun jangan dilupakan, rencana Tuhan tidak hanya berhenti pada bangsa Israel namun kepada bangsa-bangsa di seluruh dunia, melalui pemilihan bangsa Israel (lih. Kej 12:3; 17:5). Kini bangsa pilihan Allah yang baru adalah Gereja, yaitu yang terdiri dari mereka yang mengimani Kristus di seluruh dunia, dan dengan demikian, menjadi keturunan Abraham, karena hidup dari iman Abraham (lih. Rom 4:16-25).

Sabtu, 15 Juni 2013


SUMUA KARNA SENYUMNYA

Semua karena senyumnya. Senyum yang berbeda dari jutaan senyum yang pernah kulihat sebelumnya. Mungkin ini terlalu berlebihan namun aku juga tak mungkin berbohong pada perasaan yang baru pertama kalinya ku kecap. Dia memang tidak terlalu tampan dan gagah. Dia juga tidak memukau akan prestasi akademik maupun non akademik. Tapi ia memiliki suatu daya tertarik sendiri yang entah apa aku pun juga belum bisa memastikan hal itu. Lelaki yang memiliki lesung pipi ini memiliki nama yang juga manis semanis empunya yaitu “Andika Devansyah” yang lebih sering dipanggil kak Devan karena memang kedudukannya di SMA Tunas Mulia paling tinggi yaitu kelas XII IPA 1. Aku mengenalnya saat aku tengah kebingungan memilih jurusan yang tepat untuk kumasuki di kelas XI karena jujur saja semua pelajaran yang menjamur pada saat kelas X membuatku hampir frustasi bahkan untuk menentukan keinginanku saat dewasa nanti pun belum jelas arahnya. 

Namun ternyata Tuhan masih melimpahkan rahmat pada hambanya yang sedang kesusahan. Ia mengirimkan Kak Devan sebagai malaikat penolongku sehingga aku bisa menempati kelas XI IPA 1 sekarang. Ia benar-benar sosok yang dewasa dan mengerti setiap keinginanku meski baru beberapa hari aku mengenalnya. Namun sayangnya, setelah itu aku tak pernah lagi dekat dengannya bahkan bertegur sapa pun sangat jarang, aku tidak mengetahui nomor handphonenya dan aku juga tidak berani untuk memintanya walaupun melalui teman kak Devan sekalipun. Itulah aku, begitu pemalu sampai aku sendiri pusing memikirkan sifatku yang satu ini.

Pagi yang cerah kembali menyapa dibalik deretan pohon rindang yang bergoyang lemah karena sang bayu yang menyegarkan sekujur tubuh. Seperti biasa pukul 6.30 ku langkahkan kakiku menembus dinginnya pagi menuju sekolah tercinta yang hanya berjarak 100 meter dari rumah biruku sehingga aku tidak memerlukan kendaraan dan tidak perlu merasa takut terlambat. Ku lihat di berbagai sudut sekolah yang memang masih sepi, tak ku temukan sosok yang selama ini selalu ku kagumi meski itu hanya didalam hati. Biasanya sosok itu selalu datang ke sekolah lebih awal dariku hanya sekedar untuk membaca novel atau menunggu teman-temannya yang lain datang. Tapi 3 hari belakangan ini kak Devan tak kunjung menampakkan wajah lembutnya yang selalu kurindukan. Kemana ia aku tak tahu dan malu untuk menanyakan hal itu sampai akhirnya aku putuskan untuk berdiam diri saja. Oh.. bodohnya aku saat itu.
“Hei san, kamu udah denger kabar belum tentang kak Devan? ” tiba-tiba kedatangan yang membawa nama sosok pahlawan hatiku itu membuatku sedikit kelagapan namun tersenyum dalam hati. Sejenak ku menarik napas.
“Hm… memangnya ada kabar apa rin? Gak tau tuh” jawabku berpura-pura sedikit cuek namun tak sabar menanti jawaban sahabatku yang bernama Ririn Sabrina itu.
“ Payah kamu San, padahal kabar ini udah tersebar sampe keluar sekolah. Hm.. kak Devan katanya sekarang lagi frustasi berat gara-gara diputusin sama Sherin gara-gara si Sherin selingkuh sama sahabatnya Kak Devan sendiri”
“ apa? Kamu serius rin?” aku benar-benar tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh sahabatku itu, aku tidak mengetahui sama sekali kalau ternyata selama ini kak Devan telah memiliki kekasih yang amat dicintainya sampai-sampai ia frustasi karena diselingkuhi oleh pacarnya itu.
“Iya lah Sandria, aku serius banget. Udah 3 hari kak Devan gak masuk gaa-gara selalu mengurung diri dikamarnya. Pokoknya kasihan banget deh. Aku kira kak Devan itu kuat dan tegar ternyata baru digituin sama cewek aja udah melempem..huu” aku hanya terdiam mendengar perkataan sahabatku yang paling aktif kalau bicara itu, aku berpikir keras dan mencoba merasakan apa yang sebenarnya terjadi. Aku yakin yang dibicarakan Ririn itu bukanlah kak Devan. Bukanlah kak Devan yang selalu indah dimataku akan semangatnya yang setiap detik tak pernah absen membara. Namun, aku juga tidak bisa menyangkal kebenaran yang diungkapkan Ririn, kak Devan amat mencintai kekasihnya dan kini ia harus memetik hasil yang tidak seimbang dengan rasa yang benar-benar tulus itu. Dan itu sungguh tidak adil setidaknya untuk aku yang setia mengaguminya. Aku tidak rela kalau sosok yang ku kagumi itu berubah drastic hanya gara-gara cinta. cinta yang tak pernah menghargai makna cinta. aku bertekad. Aku bertekad untuk mengembalikan kak Devanku yang dulu meski aku belum tahu caranya. Yang pasti mentari indahku harus kembali seperti pertama kali ia menatapku.

Malam itu aku duduk di kursi taman di bawah hangatnya sinar rembulan yang menyelinap dalam setiap celah hatiku. Aku menggenggam sebuah spidol berwarna merah dan memangku sebuah kertas putih berukuran cukup besar yang sesekali terjatuh karena tertiup angin. Tepat pukul 21.00 aku mulai menorehkan tinta spidol itu ke atas kertas putih yang perlahan penuh dengan rangkaian huruf A-Z secara acak. Setelah hampir satu jam pikiran dan hati serta jemari tangan kananku berkutat saling bahu membahu, akhirnya tulisan itu selesai dan siap untuk ku persembahkan kepada seseorang yang mungkin tak pernah mengetahui bahwa ada seseorang yang telah menuliskan 100 puisi yang bercerita tentang keindahan dan kesempurnaan hadirnya.

Bungkusan itu kini telah terlihat indah dan sempurna dipandang mata. Dengan sampul kado berwana biru dan pita cantik berwarna merah yang membalutnya ku harap mampu membuat senyum dan semangat itu kembali meski itu memang belum pasti. Ku langkahkan kedua kakiku perlahan meunuju sebuah rumah berwarna merah dengan mengendari sebuah sepeda motor pemberian almarhum ayahandaku. Setelah 30 menit menempuh perjalanan akhirnya aku tiba juga di depan gerbang sebuah rumah yang memiliki penghuni seorang lelaki muda yang manis dan mempesona bagiku. Ku perhatikan rumah yang nampaknya sepi itu, begitu dingin dan tak terasa kehangatan sama sekali. Mungkin itu hanya perasaanku saja atau memang benar adanya aku tak tahu. Aku pun mengetuk gerbang rumah itu dan terlihat seorang wanita tua yang sepertinya adalah pembantu rumah tangga disana berlari menuju gerbang dan segara membukakannya untuk menyambut kehadiranku.
“Maaf ada yang bisa saya bantu mbak?” sapa lembut wanita yang terlihat berusia kepala 4 itu kepadaku.
“oh iya bik, bik saya boleh minta tolong untuk memberikan bingkisan ini kepada Kak Devan?” bibi itu tersenyum dan mengambil bingkisan yang ku bawa itu dari tanganku.
“Iya mbak nanti saya sampaikan sama den Devan, maaf dari mba siapa ya?” aku terdiam sesaat dan memutuskan untuk tidak memberitahukan namaku. Aku tak ingin kak Devan tahu aku yang mengirimkan bingkisan itu kepadanya.
“Bilang saja dari orang yang mengaguminya yah bik. Saya permisi dulu bik, terima kasih sebelumnya” aku berlalu pergi tanpa menunggu jawaban dari bibi yang terlihat kebingungan melihat tingkahku. Yang terpenting sekarang aku hanya bisa berdo’a supaya apa yang ku berikan itu mampu menjadi sedikit obat penyemangat kak Devan agar kembali tersenyum walau bukan untukku.

Keesokan harinya yang sedikit mendung tak seperti hari-hari sebelumnya yang selalu cerah nan mempesona. Hari ini tepat 5 hari aku tak bisa melihat sosok yang memiliki senyum bak pelangi yang mencerahkan hari sehabis hujang dan mendung menyelimuti langit. Ku langkahkan kedua kakiku dengan sedikit lesu menuju sekolah yang selama ini menjadi tempat primadona yang paling sering ku kunjungi untuk menuntut ilmu di usia remaja. Saat tiba di gerbang sekolah, tiba-tiba kedua mataku dikejutkan dengan sebuah pemandangan yang sangat berbeda dari 5 hari sebelumnya. Ya pemandangan yang 5 hari lalu masih sempat ku nikmati dan kini ia kembali. Kak Devan kembali. Dan yang paling membahagiakan adalah ia kembali dengan senyuman manisnya. Dengan semangat membaranya dan tawa khas miliknya. Betapa bahagianya hatiku saat itu sampai aku tidak bisa melangkah dan berkata-kata. Terima kasih tuhan, engkau kembalikan ia bersama kilau cahaya indahnya.
Istirahat pertama ku habiskan bersama ke 4 sahabatku, Rena, Ririn, Cinta dan Shasya dengan makan di kantin sekolah dan aku yang mentraktir mereka. Mereka sempat heran mengapa aku tiba-tiba sangat royal hari itu padahal biasanya selalu aku yang minta di traktir. Tapi kali ini aku katakana pada mereka bahwa aku ingin merayakan persahabtanku bersama meraka yang telah berjalan selama 2 tahun ini meskipun sebenarnya ini semua untuk kembalinya mentari pagiku kepada sangkar emas tabiatnya.

Sambil menikmati makanan yang ada dihadapan kami, kami berbincang-bincang mengenai hal apa saja sampai pada akhirnya, Shasya sahabatku yang paling baik tiba-tiba menyebut nama kak Devan dalam rangkaian kalimatnya.
“ Wah,, aku seneng banget loh akhirnya kak Devan bisa masuk sekolah lagi dan gak frustasi kayak kemarin-kemarin lagi”
“Hm.. kok bisa yah kak Devan gak frustasi lagi, apa emangnya yang bisa buat dia balik semangat lagi?” sambung Ririn penasaran ingin tahu.
“Kalau itu sih aku kurang tahu juga, tapi yang jelas kak Devan bilang sama aku tadi pagi kalau yang buat dia bisa bersemangat menjalani aktivitas lagi itu adalah bingkisan yang dikirim seorang gadis misterius untuknya” tiba-tiba aku tersedak mendengar perkataan Shasya itu dan berpura-pura bersikap sewajarnya karena teman-temanku mulai memperhatikan tingkah anehku.
J“Kamu kenapa San? Keselek ya? Makanya hati-hati dong kalo makan itu” sahut Cinta yang begitu peduli kepada sahabatnya. Dalam hati aku berbisik bahagia, akhirnya aku mampu memberikan sedikit sinar untuk menyinari kelamnya hari sang malaikat penolongku. Untuk yang kedua kalinya, terima kasih tuhan

Tiga bulan penuh ku lalui hari-hariku setelah peristiwa indah dalam hidupku itu terjadi. Meskipun sampai detik ini aku belum juga mampu menyapa dan bertutur kata kepadanya. Namun aku bahagia karena setidaknya aku tak kehilangan senyuman dari bibir indahnya. Dan aku juga bahagia karena sudah hampir 200 puisi berhasil aku tulis tentangnya, tentang kesempurnaan hadirnya dalam perjalanan cinta hidupku. Hari ini tanggal 10 februari tepat 5 bulan setelah aku mengenalnya. Tidak terasa waktu ku untuk mengaguminya sudah cukup lama dan mungkin ini tidak akan berubah entah sampai kapan aku tidak tahu. Saat tengah menikmati indahnya sore berpayung sang rona jingga, Shasya datang ke rumahku dan langsung bergabung duduk berdua di teras kamarku.
“Hei.. tumben kamu main kesini sob, ada angin pa nih? “ Tanyaku mengawali pembicaraan.

Sahabatku itu malah tersenyum sendiri dan rona kebahagiaan Nampak jelas dari wajahnya.
“Aku sedang jatuh cinta San, dan kali ini aku benar-benar bahagia merasakan indahnya cinta itu” jelasnya dengan senyum yang terus menggantung di bibir merahnya.
“Wah ternyata sahabatku lagi ditaburi dengan benih-benih cinta nih, selamet ya.. sama siapa nih?” tanyaku ikut merasakan senang yang tak terkira.
“Itu masih rahasia sayang, nanti kalau semuanya udah seperti yang aku inginkan, aku pasti cerita sama kamu dan juga sahabat yang lain” ucap Shasya yang ternyata benar-benar sedang di mabuk asmara sama seperti aku yang mungkin lebih dulu merasakannya hingga kini.
“Baiklah kalau begitu. Aku turut bahagia sobat, terus ada yang bisa aku bantu untuk perasaanmu itu? “ tawarku yang segera disusul oleh anggukan bahagia sahabat manisku.
“Kamu benar sekali sobat, aku memang butuh bantuanmu saat ini. Hm.. kamu kan jagonya buat puisi tentang cinta nih, aku mau dong dibuatin satu puisi yang isinya tentang kekaguman sama seseorang” seketika jiwaku bergetar mendengar permintaan sahabatku itu, ternyata ia benar-benar merasakan apa yang ku rasakan pada kak Devan dan aku segera menggangguk tersenyum menyetujui hal itu.
“tentu saja dengan senang hati sobat” Shasya menanggapi kesanggupanku dengan pelukan kecil. Cinta itu memang indah apalagi kini aku tak sendiri merasakannya.
Hari minggu kembali datang, senyum kebebasan dari bertumpuknya pelajaran di sekolah mulai dirasakan. Hari ini aku berencana untuk mengunjungi Shasya dirumahnya untuk mendengarkan curahan hati sahabatku itu mengenai pujaan hatinya yang belum ku ketahui siapa orang yang beruntung itu.

Sesampai dirumahnya aku langsung menemui Shasya dikamar putihnya setelah sebelumnya aku sedikit bercengkrama dengan ibunda Shasya. Tapi yang ku lihat saat di kamarnya, Shasya sedang menangis saat membaca pesan singkat di handphone nya. Langsung saja aku menghampirinya dan menanyakan apa yang terjadi dan Shasya malah memelukku sambil menangis keras.
“Shasya kamu kenapa sobat? Ayo katakan kamu kenapa? “ tanyaku coba untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
“Dia.. diaa kecelakaan San… “
“Apa? Dia siapa? Siapa yang kecelakaan” tanyaku kembali saat terkejut mendengar perkataan sahabatku itu.
“Orang yang selama ini ku sayangi.. ku cintai.. Kak Devan kecelakaan.

Bagai tersambar petir yang menghujam dari kedua arah. Terasa aliran darahku berhenti di sekujur tubuhku. Pandanganku kaku dan bibirku kini kelu. Semua yang kudengar bagai dua sayatan sembilu yang begitu menoreh luka di sanubariku. Tuhan.. mengapa ini harus terjadi, dua hal yang menyakitkan harus ku dengar dan ku ketahui dalam waktu yang bersamaan. Rasanya tak mampu lagi ku tahan air mata saat itu. Semua rasa bagai ingin tertumpah dalam balutan kecewa yang bernanah dan mematikan. aku terdiam berpikir keras dalam sisa tenagaku. Dan aku mulai menyadari bahwa tak ada guna kini aku menangisi apa yang telah terjadi. Pangeran hidupku yang juga Cahaya indah Shasya tengah berjuang melawan kematian di sana. Sementara kami yang benar-benar menyayanginya hanya mampu menangis. Tidak, aku harus bangkit, tak peduli apa perasaanku saat ini yang terpenting hanyalah aku bisa melihat Kak Devan sembuh dan tersenyum kembali.

Kamu berdua tiba di rumah sakit dan disana hanya ada kakak dan pembantu Kak Devan. Terakhir ku dengar kedua orang tua kak Devan telah meninggal dunia pada kecelakaan pesawat. Raut wajah Kak Revan yang merupakan saudara kak Devan benar-benar mencemaskan kami terutama aku yang tak akan rela kalau harus kehilangan senyumnya.
“Kak gimana keadaan kak Devan? “ Tanya Shasya saat berada disamping Kak Revan.
“Keadaannya semakin memburuk Sya, dia kehilangan banyak darah sementara rumah sakit sedang kehabisan stok golongan darah B” ucap kak Revan perlahan seperti habis harapan.
“Kak, golongan darah aku sama kayak kak Devan. Aku mau mendonorkannya” ucapanku yang spontan keluar dari bibirku itu disambut dengan terbitnya senyum kecil nan sejuk dibibir kak Revan. Kak Revan langsung memelukku lalu mengucapkan terima kasih.

Proses pendonoran darah itu berlangsung cukup lama. Di dalam hati aku selalu tak henti-hentinya berharap agar kak Devan, sang penyemangatku itu kembali dapat beraktivitas seperti biasa. Meski hatiku juga kini sangat terluka karena sayatan cinta yang juga tertuju pada kak Devan dari seorang sahabtat yang juga kucinta. Sejak detik itu, aku membuang semua perasaan kagumku kepada kak Devan. Aku relakan semua rasaku terlimpahkan dari sahabatku untuk sang penyemangat hidupku.

3 hari setelah dirawat akhirnya kak Devan berhasil selamat dari kecelakaan maut itu. Kini senyum manis mulai kembali terbit di bibir tipisnya. Aku bahagia sangat bahagia saat berada dihadapan kak Devan yang masih terbaring lemah namun tetap dengan senyum manis yang menghiasi.
“Devan.. kamu tahu siapa yang mendonorkan darah untuk menyelamatkanmu?”
“siapa kak? “ jawab kak Devan pelan. Saat itu tiba-tiba saja pandanganku berubah menjadi aneh. Semua yang ada disekitarku terlihat berputar dan perutku seakan digoncang dengan hebatnya. Dan akhirnya semua gelap.

Saat aku membuka kedua mataku, tiba-tiba aku melihat banyak orang yang mengerumuni seseorang yang tengah terbujur kaku diatas kasur rumah sakit yang putih. Orang-orang itu menangis sesenggukan. Dan disana juga ada kak Devan. Ya kak Devan.. ia menangis dengan keras dan seperti menyalahkan dirinya sendiri. Aku kebingungan dan tak tahu apa yang terjadi. Saat aku mencoba mendekat kepada kerumunan itu. Tiba-tiba Cinta dan Ririn datang dan langsung berlari ke arah sosok yang terbaring kaku itu. Namun betapa terkejutnya aku saat mereka menangis mereka memanggil manggil namaku dengan cukup keras padahal aku ada didekat mereka. Aku langsung mendekati mereka dan mecoba berbicara namun aku kembali dikejutkan dengan hal yang tak ku duga, mereka tak bisa mendengarku bahkan melihatku, mereka seolah olah tak menganggap aku ada disisi mereka. Aku hanya terdiam semakin heran memikirkan semua yang sedang terjadi. Dan saat itu kak Devan kemudian membuka selimut yang menutupi seluruh tubuh orang yang terbujur kaku itu. Dan saat terbuka.. serentak detak jantungku seakan berhenti dan pandanganku menganga tak percaya. Itu aku. Aku yang sedang berbaring disana. Aku yang sedang mereka tangisi. oh tuhan aku hampir tak percaya ternyata aku telah kembali kepadaMu, kembali untuk menemuiMu, dan berpisah selamanya dengan mereka.

 tetaplah tersenyum untuk semua orang yang menyayangimu. Disini aku akan selalu merindukanmu dan
JPeristiwa itu telah merenggut nyawaku. Aku bahagia, aku sangat bahagia karena sisa terakhir dalam hidupku ternyata ku persembahkan untuk orang yang sangat ku sayangi. Meski kak Devan tak mengetahui tentang 200 puisi itu, tentang bingkisan itu, tentang kekaguman itu, dan tentang perasaan ini. Kini hanya satu yang bisa aku sadari. Bahwa ternyata sejauh hari menutup aku mampu mengaguminya. Selamat tinggal kak Devan